WartaNegeriku.id, Lahat — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STISIPOL Candradimuka Palembang berhasil menuntaskan Program PEM-BEM Mahasiswa Berdampak 2025 di Desa Keban Agung, Kecamatan Mulak Sebingkai, Kabupaten Lahat.
Program yang berlangsung selama dua bulan ini, berfokus pada revitalisasi pertanian lestari dan pengembangan agroindustri kopi berbasis pemberdayaan masyarakat desa.
Program bertajuk Revitalisasi Pertanian Lestari dan Agroindustri Kopi Keban Agung Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dalam Penguatan Ekonomi Inklusif Daerah Tertinggal ini, digelar selama delapan kali pertemuan, mulai 10 September hingga 9 November 2025.
[irp]
Lebih dari 60 anggota Kelompok Tani Maju Bersama, menjadi peserta aktif dalam kegiatan ini. Mahasiswa bersama dosen pembimbing terjun langsung ke lapangan, memberikan pelatihan teknik pengolahan pasca panen, praktik tumpang sari, serta strategi pemasaran digital berbasis e-commerce, untuk memperluas jangkauan pasar produk petani.
Program ini mendapatkan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia tahun 2025.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi kampus terhadap penguatan ekonomi masyarakat, berbasis potensi lokal.
[irp]
Ketua pengusul program, Dr. Icuk Muhammad Sakir, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen akademisi dan mahasiswa dalam mendukung kemandirian ekonomi desa.
“Program ini adalah bentuk kontribusi nyata dari dunia akademik untuk membantu masyarakat desa memanfaatkan potensi lokal. Kami berharap kebun kopi di Keban Agung dapat menjadi contoh pengelolaan pertanian yang modern, berkelanjutan, dan inklusif.” ujar Dr. Icuk Muhammad Sakir, M.Si.
Ketua BEM STISIPOL Candradimuka Palembang, Muhammad Ridwan Malik, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pendampingan teknis, melainkan proses pembelajaran bersama antara mahasiswa dan petani.
[irp]
“Kami melihat potensi luar biasa dari kopi Lahat. Melalui pendampingan ini, kami tidak hanya berbagi ilmu tentang tumpang sari dan pemasaran digital, tetapi juga belajar dari kearifan lokal petani. Ini pembelajaran dua arah yang berharga, dan komitmen kami adalah memastikan Keban Agung memiliki ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.” ungkapnya.
Antusiasme tinggi datang dari para petani peserta program. Agus Mansyah, anggota Kelompok Tani Maju Bersama, mengaku bahwa pelatihan ini membawa dampak besar bagi keberlanjutan ekonomi keluarga.
“Selama ini, kopi hanya panen setahun sekali. Dengan program ini kami belajar tumpang sari, seperti menanam jahe dan nanas di sela kopi. Selain itu, mahasiswa juga bantu kami memasarkan lewat e-commerce. Sekarang hasilnya lebih bernilai.” jelas Agus Mansyah.
[irp]
Program ini juga membantu petani memahami pengelolaan pertanian terpadu, agar lahan tetap produktif sepanjang tahun dan menghasilkan nilai tambah ekonomi dari hasil bumi yang beragam. (*)







