WARTANEGERIKU.ID — Bank Indonesia (BI) melalui Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia, menggelar “Bootcamp Peningkatan Kapasitas Desa Wisata Unggulan Ramah Muslim”.
Kegiatan akselerasi ini diselenggarakan selama tiga hari pada 5–7 Agustus 2026 di Bandung, Jawa Barat, guna memperkuat tata kelola dan daya saing destinasi lokal.
Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Masruroh, menjelaskan bahwa desa wisata memegang posisi strategis sebagai ruang interaksi langsung antara wisatawan dan kearifan lokal.
Penguatan kapasitas pengelola dinilai menjadi investasi penting untuk menghadirkan pariwisata yang berkualitas, inklusif, serta berkelanjutan.
Konsep Pariwisata Ramah Muslim untuk Perluas Pasar
Program ini merupakan bagian dari inisiatif strategis tahun 2026, yang menyasar 25 desa wisata unggulan dari lima provinsi dengan capaian terbaik dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025, yakni Aceh, Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.
Para peserta terpilih melalui proses kurasi ketat dari total 63 kandidat potensial.
“Penguatan kapasitas pengelola desa wisata merupakan investasi penting untuk mewujudkan destinasi yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Masruroh.
Ia menegaskan bahwa konsep Pariwisata Ramah Muslim (PRM) tidak bertujuan mengubah identitas atau kultur desa, melainkan menghadirkan layanan tambahan (extended services) yang membuat perjalanan wisatawan semakin nyaman, bersih, dan inklusif.
Pendekatan ini mencakup ketersediaan makanan halal, fasilitas ibadah yang memadai, serta sanitasi yang layak pada unsur amenitas dan aksesibilitas.
Pendampingan Intensif dan Transformasi Digital
Selama kegiatan di Bandung, para peserta mendapatkan pelatihan komprehensif mulai dari penyusunan paket wisata berbasis potensi lokal, strategi pemasaran digital, hingga tata kelola kelembagaan.
Peserta juga melakukan studi tiru langsung ke Desa Wisata Cibuntu di Kuningan, Jawa Barat, untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan destinasi secara mandiri.
Deputi Direktur DEKS Bank Indonesia, Dwi Putra Indrawan, menambahkan bahwa pendampingan ini juga berorientasi pada kesiapan produk agar dapat masuk (onboarding) ke dalam platform Online Travel Agent (OTA).
“Melalui bootcamp ini, Bank Indonesia bersama Kementerian Pariwisata tidak hanya memberikan penguatan kapasitas kepada pengelola desa wisata, tetapi juga melakukan pendampingan yang lebih terarah agar setiap desa mampu mengembangkan paket wisata yang kompetitif,” kata Dwi Putra Indrawan.
Sebagai luaran utama kegiatan, setiap desa wisata diwajibkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (Action Plan) untuk memastikan peningkatan kunjungan wisatawan dan perputaran ekonomi lokal terus berlanjut pasca kegiatan berakhir.
Kolaborasi multipihak ini diharapkan mampu menjadikan desa wisata sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan di tingkat regional maupun nasional. (airu)

Airu Sikumbang adalah jurnalis WartaNegeriku.id yang fokus pada liputan di bidang politik dan pemerintahan. Selain itu, juga merupakan Wakil Ketua DPD Pro JurnalisMedia Siber (PJS) Provinsi Sumatra Selatan.

