WARTANEGERIKU.ID — Pemerintah memastikan cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi aman. Cadangan jenis Pertalite (RON 90) tercatat cukup untuk kebutuhan 16 hingga 18 hari, sementara komoditas BBM lainnya serta LPG, bertahan di atas standar minimum nasional.
Laporan ketahanan energi tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, pada Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Mengenai kendala pasokan BBM di Provinsi Bali baru-baru ini, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa persoalan tersebut murni dipicu hambatan logistik pengiriman kapal dari Jawa Timur, bukan akibat kelangkaan stok nasional. Saat ini, pasokan BBM di Bali telah kembali normal, dengan ketahanan hingga 12 hari.
Langkah efisiensi pengadaan energi juga ditunjukkan melaui penghentian impor solar jenis Cetane Number (CN) 48. “Untuk solar jenis CN 48, kita alhamdulillah sudah tidak melakukan impor. Sementara impor untuk jenis solar CN 51 masih dilakukan sebagian,” ujar Bahlil Lahadalia, dilansir dari presidenri.go.id.
Guna memangkas rantai pasok, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menandatangani Peraturan Presiden terkait pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG secara langsung melalui skema antar pemerintah (government-to-government/G2G) memanfaatkan Badan Layanan Umum (BLU).
Target PNBP ESDM Rp165 Triliun dan Nilai Ekspor Mineral
Di sektor penerimaan negara, Bahlil Lahadalia melaporkan realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM periode Januari–Oktober 2026 telah mencapai Rp127,74 triliun. Angka ini mendekati target APBN sebesar Rp133,63 triliun. Kementerian ESDM menargetkan total PNBP akhir tahun mencapai Rp165 triliun untuk menyokong kebutuhan fiskal dan subsidi BBM.
Sektor ekspor komoditas tambang juga mencatatkan tren positif. Meski volume ekspor batu bara periode Januari–September 2026 turun dari 374 juta ton menjadi 343 juta ton dibanding tahun sebelumnya, nilai pendapatannya justru naik dari 21 miliar dolar AS menjadi 23,71 miliar dolar AS.
Peningkatan serupa terjadi pada komoditas nikel, dengan nilai ekspor hingga Agustus 2026 tembus 24,55 miliar dolar AS, naik dibanding periode sama tahun 2025 sebesar 21,22 miliar dolar AS. (air)

Airu Sikumbang adalah jurnalis WartaNegeriku.id yang fokus pada liputan di bidang politik dan pemerintahan. Selain itu, juga merupakan Wakil Ketua DPD Pro JurnalisMedia Siber (PJS) Provinsi Sumatra Selatan.











