Sopir Truk di Sumsel Antre Solar Sampai Tidur di SPBU, Anggota DPD RI Ini Angkat Bicara di Senayan

Selamat Hari Raya Idul Adha Tahun 1.447 Hijriah

WARTANEGERIKU.ID — Anggota Komite II DPD RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Selatan (Sumsel), Hj. Eva Susanti, menyoroti tajam persoalan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di wilayah Bumi Sriwijaya. Aspirasi tersebut disampaikan langsung dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama jajaran direksi PT Pertamina (Persero).

Rapat yang digelar oleh Komite II DPD RI tersebut, berlangsung di Ruang Rapat Mataram, Gedung B DPD RI, Jakarta. Agenda utama pertemuan ini berfokus pada evaluasi stok, pengawasan distribusi, serta stabilitas harga BBM bersubsidi di berbagai daerah.

Dalam forum tersebut, Hj. Eva Susanti memanfaatkan kesempatan untuk menyuarakan keluhan masyarakat Sumsel, terutama para sopir angkutan logistik dan pelaku usaha, yang kerap kesulitan memperoleh solar. Menurutnya, pemandangan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Sumsel masih terus terjadi akibat terbatasnya pasokan.

“Saya langsung mempertanyakan persoalan kelangkaan BBM, khususnya solar di Sumatera Selatan. Kondisi ini sering menimbulkan antrean panjang di SPBU,” ujar Senator yang kini duduk untuk periode kedua tersebut.

BACA JUGA :  Hj. Eva Susanti Berbagi Takjil untuk Warga dan Pengendara di Palembang

Picu Kriminalitas dan Tragedi Berdarah di SPBU Palembang

Hj. Eva Susanti menilai, persoalan hambatan distribusi solar tidak hanya memukul aktivitas ekonomi daerah, tetapi juga sangat rawan memicu gesekan dan konflik sosial di lapangan. Ia membeberkan kasus tragis yang baru-baru ini terjadi di Kota Palembang, sebagai contoh nyata dampak sosiologis kelangkaan BBM.

Peristiwa berdarah tersebut menimpa seorang sopir truk di sebuah SPBU di Kecamatan Sukarami, Palembang. Kejadian bermula saat korban tengah mengantre panjang untuk mengisi solar.

Situasi di lokasi memanas, ketika pengendara mobil lain diduga menyerobot antrean, hingga memicu adu mulut. Meski sempat dilerai oleh petugas keamanan SPBU, pelaku kemudian kembali datang bersama sejumlah rekannya, dan melakukan penyerangan hingga mengakibatkan korban meninggal dunia.

Bagi Hj. Eva Susanti, peristiwa memilukan tersebut harus menjadi alarm keras bagi pemerintah dan Pertamina, bahwa karut marut antrean pasokan BBM tidak boleh lagi dianggap sepele.

“Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Nyawa manusia jauh lebih berharga. Persoalan antrean dan pasokan BBM harus segera dicarikan solusi yang konkret,” tegasnya.

BACA JUGA :  Kunjungi TPA As-Salam, Eva Susanti Perjuangkan Pendidikan Al-Qur’an Anak Usia Dini

Sumsel Daerah Penghasil Migas, Tapi Pasokan Terbatas

Lebih lanjut, Srikandi parlemen ini juga mempertanyakan indikator penentuan kuota BBM di Sumsel. Ia merasa janggal, mengapa pasokan solar di wilayahnya terkesan lebih terbatas dibanding provinsi tetangga, padahal Sumsel dikenal luas sebagai salah satu daerah lumbung minyak dan gas bumi di bagian selatan Sumatra.

Ia mengungkapkan, realitas di lapangan sering disaksikannya langsung secara berkala, ketika melakukan kunjungan kerja ke daerah pemilihan.

Every time saya pulang ke dapil, saya melihat sopir-sopir truk harus mengantre panjang. Bahkan ada yang sampai tidur-tiduran di sekitar SPBU sambil menunggu giliran mengisi solar. Saya berharap masalah ini segera mendapatkan penyelesaian,” katanya.

Melalui forum ini, Komite II DPD RI menegaskan akan terus mengawal dan mendorong evaluasi berkala tata niaga distribusi solar bersubsidi agar kebutuhan masyarakat transportasi di Sumsel dapat terpenuhi secara aman dan berkeadilan. (air)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *