PMII Sumsel Minta Presiden Tetapkan Banjir Sumatera Bencana Nasional

WARTANEGERIKU.ID — Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mendesak pemerintah pusat untuk mengambil langkah luar biasa dalam penanganan bencana.

PKC PMII Sumsel secara resmi meminta Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar segera menetapkan bencana banjir dan longsor di Pulau Sumatra, yang meluas di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sebagai status bencana nasional.

Ketua PKC PMII Sumsel, Syaidina Ali, menilai eskalasi kerusakan di lapangan sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Menurutnya, birokrasi penanganan darurat yang biasa kerap lambat merespons kebutuhan mendesak di lapangan, sehingga peningkatan status menjadi bencana nasional diperlukan agar mobilitas sumber daya dari pusat dapat dikerahkan secara maksimal tanpa hambatan administratif.

BACA JUGA :  Bantuan 20 Ton dari Presiden untuk Korban Bencana Sumbar Tiba

Kendala Lapangan dan Dampak Kemanusiaan yang Meluas

Dalam keterangannya, Syaidina Ali mengungkapkan bahwa masih banyak wilayah terdampak yang terisolasi dan sulit dijangkau akibat timbunan material longsor serta tingginya genangan air. Kondisi tersebut membuat distribusi logistik pangan, air bersih, serta layanan kesehatan bagi para pengungsi sering kali tersendat.

“Bisa kita lihat bahwa saat ini masih banyak lokasi yang terdampak banjir, sulit dijangkau. Warga dan sejumlah titik pengungsian belum terakses, akibat material longsor dan genangan banjir yang tinggi,” ujar Syaidina Ali.

Ia menambahkan bahwa musibah hidrometeorologi ini tidak sekadar merusak puluhan ribu unit rumah warga, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta memicu potensi krisis kesehatan di posko-posko pengungsian.

Kehadiran negara secara penuh, dinilai menjadi keharusan moral dan konstitusional untuk meringankan beban para korban.

BACA JUGA :  56 SPPG di Palembang Belum Bersertifikat, Ratu Dewa Gerak Cepat

Skala Kerusakan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat

Berdasarkan data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di masing-masing wilayah per 27 November 2025, dampak bencana ini mencakup kawasan yang sangat luas:

  • Aceh: Bencana melanda 16 kabupaten/kota, berdampak pada 3.817 kepala keluarga atau setara 119.988 jiwa, dengan 20.759 jiwa mengungsi. Tercatat pula 22 korban jiwa yang tersebar di Aceh Tengah, Aceh Utara, Bener Meriah, dan Aceh Tenggara.

  • Sumatera Utara: Banjir bandang dan longsor menerjang 13 kabupaten/kota, yang mengakibatkan 47 orang dilaporkan meninggal dunia akibat terjangan arus deras dan material longsor.

  • Sumatera Barat: Sebanyak 13 kabupaten/kota turut lumpuh, menyebabkan 21 warga meninggal dunia, 3 orang masih hilang, 4 mengalami luka-luka, serta 12.000 jiwa terdampak di wilayah seperti Padang, Pariaman, Pasaman Barat, dan Bukittinggi.

Melalui desakan ini, kalangan mahasiswa di Sumsel berharap pemerintah pusat dapat segera mengonsolidasikan anggaran belanja darurat dan mengerahkan alat berat secara masif guna membuka akses wilayah yang terisolasi.

Langkah cepat ini dinilai krusial untuk mencegah jatuhnya korban susulan akibat kelaparan maupun wabah penyakit pascabencana di kawasan regional Sumatra. (airu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *